PEKANBARU – Suasana khidmat menyelimuti Gereja Interdenominasi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru pagi ini. Puluhan Warga Binaan nampak berkumpul dengan penuh antusias untuk mengikuti ibadah rutin yang kali ini dipimpin oleh tim pelayanan dari Gereja Katolik Santa Maria Pekanbaru.
Alunan lagu pujian dan doa-doa syukur mengalun syahdu, menciptakan atmosfer ketenangan di tengah rutinitas pembinaan. Kehadiran perwakilan Gereja Santa Maria memberikan warna tersendiri bagi para warga binaan yang rindu akan siraman rohani dan penguatan iman.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan kepribadian yang menjadi prioritas di Lapas Pekanbaru. Negara hadir untuk memastikan bahwa setiap warga negara, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pidana, tetap mendapatkan hak-hak dasarnya untuk menyembah Tuhan sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto, menegaskan komitmen jajarannya dalam mendukung penuh kegiatan keagamaan di lingkungan Lapas. Dalam keterangannya, beliau menyampaikan bahwa ibadah adalah hak warga binaan dan dijamin oleh negara.
“Hak warga binaan untuk dapat beribadah sesuai kepercayaan masing-masing dijamin sepenuhnya oleh negara dan kami di Lapas Pekanbaru memfasilitasi hal tersebut dengan sebaik-baiknya. Kami percaya bahwa perubahan perilaku yang paling mendasar dimulai dari hati.”
Lebih lanjut, Yuniarto berharap sinergi antara Lapas dengan pemuka agama, seperti Gereja Santa Maria, dapat terus terjalin secara konsisten. Pembinaan mental dan spiritual dianggap sebagai fondasi utama sebelum para warga binaan kembali berbaur dengan masyarakat luas.
“Kami berharap kegiatan pembinaan ini dapat berjalan rutin dengan baik. Ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bekal penting bagi warga binaan untuk pemulihan mental dan spiritual mereka. Dengan iman yang kuat, kami optimis mereka akan menjadi pribadi yang lebih baik saat bebas nanti,” tutup Yuniarto.